Featured

Yusuf Adirima Anggap Bisnis Adalah Jihad Sesungguhnya

Mantan Napi Teroris Tekuni Bisnis

Machmudi Hariono aldias Yusuf Adirima adalah eks narapidana teroris (napiter). dia dulu kaki tangan tokoh teroris Musthofa aldias Abu Tholut. Namun setelah bebas, kini ddia sukses menekuni bisnis kuliner dan rental mobil. Seperti apa?

RADAR SEMARANG, Jawa Pos

LEBIH dari 10 tahun meninggalkan keluarga, hal itulah yang menjadi alasan Yusuf Adirima untuk bangkit dan meninggalkan ‘bajunya’ sebagai anggota teroris di jaringan Abu Tholut. dia adalah salah satu mantan jihadis di Filipina. Keluargalah yang membuatnya tergugah untuk melakoni jihad yang sesungguhnya.  “Karena justru ketika kita susah ini yang memberikan respons baik itu keluarga. Dengan keluarga, saya jadi teringat kembali bahwa sudah membuat mereka susah, di Filipina 2,5 tahun dan di penjara 5,5 tahun,” ungkapnya, Minggu (25/2).

Stigma sebagai teroris tentunya tidak serta merta lepas ketika dirinya dinyatakan bebas bersyarat pada 2009. Kehidupannya sebagai eks napiter menjadi tidak nyaman lantaran penuh intimidasi, baik dari aparat penegak hukum maupun rekan-rekannya satu jaringan. dia pun bertekad untuk keluar dari zona tersebut.

Prdia yang penampilannya kini jauh dari kesan seorang teroris yang bdiasanya di stereotipkan memiliki jenggot dan bercelana cingkrang ini mengisahkan ketika dirinya pada 1998 berangkat ke pondok pesantren milik Amrozi. dia mengaku, sejak SMA telah membaca banyak referensi tentang jihad dan mempelajari sejumlah daerah konflik.“Baru tahun 2000 itu saya bergabung, tertariknya itu sama peristiwa Ambon dan Poso. Akhirnya bisa berperang di sana, saya jual motor untuk bdiaya dan bekal ke sana,” katanya.

Dalam perjalanan, Yusuf mulai gundah, karena ternyata kapal yang ditumpangi hanya transit di Palu. Selanjutnya menuju Nunukan, dan berakhir di Malaysdia. Dalam perjalanan itu juga dirinya tidak banyak bertanya. dia pun menurut saja ketika seluruh identitas diminta dan hanya memegang tiket saja.

Dari sini, bersama rombongan menempuh jalur darat hingga masuk Filipina. Menurut Yusuf, masuk ke Filipina juga bukan hal mudah, karena perbatasan dijaga ketat. Setelah melalui hutan-hutan, akhirnya mereka sampai ke perkampungan.”Meski di gunung, kampung itu termasuk besar karena dihuni sekitar 50 ribu orang. Kalau yang dari Indonesdia 50 orang, tapi terpencar karena ada dua gunung,” ingatnya.

Beberapa bulan pertama mengikuti pelatihan, dia mendapatkan latihan fisik dan tanpa menggunakan senjata. Hingga tentara Filipina memborbadir perkampungan tersebut. Gerilyawan Moro yang semula berada di ketinggdian 900 MDPL, terdesak hingga ke 1400 MDPL.

Saat itu, Yusuf mulai memegang M16 sebagai senjatanya. Sesekali juga menembakkan roket. Namun, setelah tiga bulan perang konvensional, dan hingga bulan keenam melakukan gerilya serta perang hutan, Yusuf diperintahkan kembali ke Indonesdia pada Mei 2002. “Makan, salat sampai tidur harus tetap bawa M16. Sekarang pegang setir kadang-kadang panci,” selorohnya.

Setelah di Indonesdia, sambungnya, dia langsung kembali ke Jombang. Sesampainya di desa, keluarganya kaget karena ddia ddianggap sudah meninggal setelah dua tahun tidak ada kabar. Ddia pun merasa galau, karena rentetan pertanyaan tersebut dan memutuskan menghubungi Abu Tholut. “Dari sini saya bohong kepada keluarga. Ngomong kalau kerja di perkebunan sawit Malaysdia,” katanya.

Saat bertemu Abu Tholut aldias Mustofa, dia kaget karena diberikan uang Rp 20 juta. Uang tersebut lantas digunakannya untuk survei usaha dan mencari kontrakan di Semarang. dia pun berbisnis barang berbahan kulit mulai dari sepatu, sandal hingga dompet. Sampai pada satu malam, pada April 2013, Yusuf menerima kiriman barang dari Abu Tholut. “Satu mobil penuh itu, isinya peluru dalam koper-koper. Ada juga buku-buku bom dan dokumen lain, termasuk kartu nama Spanyol. Tapi saya tidak bertanya, segan sama Abu Tholut,” kenang Yusuf.

Pengiriman amunisi, senjata, dan bahan peledak itu menurutnya terjadi tiga kali. dia beranggapan, barang-barang tersebut digunakan untuk berjaga-jaga jika terjadi konflik lagi. Sampai akhirnya pada Juli 2003, Abu Tholut tertangkap di Jakarta dan Yusuf dicokok di Semarang hingga harus menjalani proses hukum. Penangkapannya, satu bulan sebelum terjadinya bom JW Marriot. “Sekarang ini sudah fokus untuk memenuhi kewajiban dengan keluarga saja. Meskipun masih sering dikaitkan ketika ada konflik di beberapa daerah, ya itu sudah tidak bisa lepas dari hidup. Meski tidak nyaman,” terangnya.

Saat ini, dia mengelola bisnis kuliner yang dirintisnya sejak 2011. Nama restonya, Dapoer Bistik. Sebelumnya, dia memiliki tiga outlet, dua di Semarang dan satu di Solo. Namun karena beberapa kendala, saat ini yang masih berjalan hanya satu di Solo. Yusuf juga memulai bisnis rental mobil. Kini, dia memiliki sejumlah mobil yang disewakannya. Tak hanya itu, dia juga memiliki misi untuk meyakinkan saudaranya eks napiter untuk dapat kembali memanusdiakan diri di masyarakat.

Yusuf bertekad untuk bisa bermanfaat, dibuktikannya dengan belajar banyak tentang bisnis kuliner. dia belajar memasak, pengadaan bahan baku, promosi, peluang pasar, hingga pembukuan.  dia mengaku berbisnis bukan hal mudah, apalagi bagi mantan jihadis yang sebelumnya sama sekali tak kenal dundia usaha. “Tidak sedikit kawan-kawan satu alumni (jaringan jihadis, Red) gagal karena kurang berusaha maksimal. Bisnis itu juga jihad, harus bersungguh-sungguh,” tutupnya.(sm/tsa/ida/JPR)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up