Sukabumi Raya

Sukabumi Terancam Tsunami

Pantai Ujunggenteng Sempat Status Waspada

SUKABUMI – Gempa berkekuatan 6,7 skala richter (SR) mengguncang wilayah Sukabumi dan sekitarnya yang menyebabkan warga panik dan berhamburan keluar rumah, Sabtu (16/12) kemarin. Gempa ini berpotensi terjadinya gelombang tsunami.

Informasi yang dihimpun dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa pertama terjadi pada Jumat, (15/12) sekitar pukul 23.04 WIB dengan kekuatan 4,5 SR yang berlokasi di 7,29 Lintang Selatan (LS), 106,69 Bujur Timur (BT) 48 km Barat Daya Kota Sukabumi dengan kedalaman pusat gempa 50 km.

Kemudian disusul gempa berdurasi sekitar satu menit terjadi pada pukul 23.47 WIB dengan kekuatan 6,7 SR yang berlokasi di 8,08 LS, 108,038 BT dengan kedalam pusat gempa 68 km. Bahkan informasi yang diterima gempa ini juga berbarengan dengan beberapa wilayah di Jabar lainnya seperti di Garut serta Jawa Tengah dan DIY dengan kekuatan 7,3 SR.

Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Kabupaten Sukabumi Eka Widiaman menyebutkan, tiga rumah rusak akibat bencana gempa berkekuatan 6,9 Skala Richter yang berpusat di Tasikmalaya, kemarin.

“Rumah yang rusak tersebut tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Caringin, Gegerbitung, dan Jampang Kulon,” ungkapnya.

Adapun rinciannya satu rumah rusak ringan yang dihuni lima jiwa di Kampung Ciseupan Hilir, RT03/06, Desa Seseupan, Kecamatan Caringin, satu rumah rusak sedang yang dihuni dua jiwa di Kampung Cisayang, RT 19/05, Desa Cijurey, Kecamatan Gegerbitung.

Selain itu, satu rumah yang dihuni tiga jiwa rusak sedang di Kampung Kebonjambu, RT 03/04, Desa Tanjung, Kecamatan Jampang Kulon. Dia menjelaskan kerusakan rumah milik warga tersebut di bagian dinding dan atap.

“Pada bencana gempa itu tidak ada korban jiwa, namun untuk kerugiannya masih dalam penghitungan,” ujarnya.

Hingga kini, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap fasilitas umum dan permukiman warga pascagempa yang berpotensi tsunami tersebut.

“Relawan dan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana BPBD masih bersiaga dan melakukan pendataan. Kami pun dibantu sukarelawan lainnya seperti dari Tagana, tim SAR dan lain-lain,” imbuhnya.

Eka mengatakan selain rumah warga yang rusak, gempa yang terjadi pada Jumat, (15/12), pukul 23.47 WIB itu juga merusak tiga kelas Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kampung Bunisari, RT 01/02, Desa Rambay, Kecamatan Tegalbuleud.

Sementara Ketua Forum Koordinasi SAR Daerah (FKSD) Kabupaten Sukabumi, Okih Fajri mengimbau, warga yang tinggal di pesisir pantai untuk tetap siaga pascagempa berpotensi tsunami berkekuatan 7,3 Skala Richter.

“Dari pantauan anggota kami di sekitar pesisir laut Sukabumi mulai dari Pantai Ujunggenteng, Kecamatan Ciracap hingga Pantai Cibangban, Kecamatan Cisolok kondisinya masih kondusif dan tidak ada kepanikan berlebih di masyarakat,” ujarnya.

Hingga kini, kata dia, kondisi gelombang maupun ombak laut Sukabumi masih kondusif dan tetap normal serta tidak menunjukan adanya perubahan.

“Kami sudah menyiagakan anggota di beberapa pos pemantauan laut, untuk memantau dan melaporkan kondisi daerahnya masing-masing,” tambahnya.

Sekala nasional, gempa bumi yang mengguncang wilayah selatan Jawa bagian barat pada Jumat malam (15/12), menimbulkan kerusakan di setidaknya 10 kabupaten di sepanjang pantai selatan pulau Jawa. Total 473 rumah rusak, ditambah beberapa bangunan publik. Gempa juga dilaporkan telah merenggut tiga orang korban jiwa.

Selain gempa utama yang terjadi pukul 23.47, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga melaporkan adanya dua gempa besar lain yang terjadi hanya beberapa jam setelah gempa pada Jumat malam. Yang pertama terjadi di 13 km tenggara Kabupaten Boalemo, Gorontalo atau 32 Kilometer di barat daya Kabupaten Gorontalo Utara. Terjadi pada Sabtu pagi pukul 04.27 WITA dengan kekuatan 5.1 Skala Richter (SR) episentrum berada di kedalaman 63 km.

Gempa kedua terjadi 4 jam kemudian pada pukul 07.22 hanya beberapa ratus meter dari lokasi gempa pertama. Yakni di 129 km di barat daya Garut, Jabar. Berkekuatan 5.7 SR di kedalaman 10 km laut Indonesia.

Kepala Humas BMKG Hary T Djatmiko mengatakan, dua gempa ini memiliki sumber yang berbeda dari gempa pertama pada Jumat malam dan tidak termasuk gempa susulan. Akibat yang ditimbulkan keduanya tidak signifikan.

“Dua gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami,”  kata Hary pada Jawa Pos (Sukabumi Ekspres Group) kemarin (16/12).

Menurutnya, BMKG merekam terjadinya gempa pada Sabtu kemarin (16/12) dengan kekuatan 5,7 SR. Namun, gempa yang terjadi pagi hari kemarin pukul 7.22 WIB itu bukan gempa susulan dari gempa Tasikmalaya Jumat malam.

“Lokasi gempa yang pagi hari (16/12) relatif cukup jauh dari pusat gempa Tasikmalaya Jumat malam (15/12). Sehingga bukan gempa susulan,” tutur dia.

Sementara itu, beberapa jam setelah gempa pertama Jumat malam, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, setidaknya 19 kali gempa susulan sepanjang Sabtu dinihari hingga pagi. Gempa susulan rata-rata memiliki kekuatan di bawah 5 SR.

“Gempa susulan ini proses yang alami karena dua lempeng menyesuaikan posisi masing-masing,” kata kepala Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho.

Sutopo menjelaskan, gempa yang terjadi Jumat malam merupakan hasil pergerakan subduksi. Lempeng Indo Australia yang berada di selatan Jawa bergerak mendesak ke bawah Lempeng Eurasia.

Kedua lempeng memang dikenal sangat aktif dengan pergerakan 7-8 sentimeter per tahun. “Maka dari itu seluruh wilayah Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara memang rawan gempa,” kata dia.

Sutopo menuturkan, pukul 23.47 malam BMKG melaporkan gempa dengan kekuatan 7,3 SR dengan kedalaman 105 km yang kemudian dimutakhirkan menjadi 6,9 SR.

Guncangan terbagi dalam tiga zona, zona terdekat dengan skala getaran 6 MMI (Modified Mercalli Intensity) dengan guncangan terkuat terasa di sebagian Kabupaten Tasikmalaya, Pangandaran, dan Kabupaten Banjar. Zona kedua dengan skala 5 MMI mengguncang sebagian Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Banjar, Singaparna, Cilacap, Banyumas, Cimahi, Bandung, Tegal, Cirebon, serta Indramayu.

Sementara zona ketiga skala 4 MMI terasa di hampir seluruh Banten, DKI Jakarta, Jabar, Jogja dan Jawa Tengah. Karenanya, warga ibukota juga merasakan gempa terutama yang tinggal di gedung-gedung tinggi. “Umumnya kalau sudah mencapai 6 MMI, bangunan yang tidak pakai konstruksi gempa akan rusak,” kata Sutopo.

Dalam panduan BNPB, kriteria gempa yang bisa menimbulkan tsunami di antaranya berkekuatan lebih dari 7 SR, serta berada di lokasi subduksi kedua lempeng. Setelah dianalisa, tim BNPB menyimpulkan bahwa gempa jumat malam bisa berpotensi tsunami. “Lima menit setelah peringatan BMKG, kita langsung tekan sirine tsunami,” tandasnya.

Sutopo menjelaskan, sebagian besar sirine tsunami di selatan Jabar dan Jateng berbunyi normal. Hanya di Cilacap yang berbunyi sebentar, lantas mati gara-gara listrik PLN padam. Peringatan level Siaga disampaikan pada warga di Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya.

Dengan ketinggian muka air laut antara 0,5 hingga kurang dari 3 meter.  Sementara peringatan level waspada diberikan pada warga Bantul, Kulonprogo, Cianjur, Garut, Sukabumi, Cilacap, dan Kebumen dengan gelombang air laut kurang dari setengah meter.

Masyarakat langsung merespons dengan mengevakuasi diri dibantu aparat. Sebagian besar menggunakan kendaraan. Kemacetan dilaporkan terjadi di wilayah-wilayah tersebut. Sutopo juga menyebut, BNPB tidak bisa memetakan waktu kedatangan tsunami, serta daerah yang berpotensi dihantam gelombang karena ketiadaan pelampung tsunami (tsunami buoy) di lepas pantai selatan Jawa.

“Sejak 2012 tsunami buoy sudah tidak berfungsi karena keterbatasan anggaran,” ungkapnya.

BNPB semata mengandalkan perhitungan modeling dengan kriteria tersebut diatas. Petugas juga turun ke pantai untuk mengamati perubahan muka air laut. Sampai pukul 02.30 dinihari, tidak ada laporan perubahan muka air laut. “Sehingga peringatan tsunami langsung dicabut, kenyataannya memang tidak ada,” imbuhnya.

Banyak pihak bertanya-tanya. Gempa dengan kekuatan 6,9 SR itu kok sampai terasa di Jakarta bahkan sampai ke Jawa Timur. Ahli geofisika Indonesia Surono menjelaskan yang memicu gempa Tasikmalaya itu dirasakan hingga jauh adalah kedalamannya.

“Saat gempa terjadi, saya berada di daerah kemayoran. Di apartemen lantai 32. Sempat heboh,,” kata dia, kemarin (16/12). Dia bahkan harus turun bersama keluarganya ke lantai dasar melalui tangga darurat. Sebagaimana diumumkan BMKG, gempa yang sempat memicu peringatan dini tsunami itu berpusat di kedalaman 107 km.

Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) itu menjelaskan, dampak dari gempa yang pusatnya sangat dalam adalah jangkauan getarannya cukup jauh. Dia mengibaratkan seseorang yang menyorotkan lampu senter ke atap. Semakin jauh jarak antara senter dengan atap, maka sinar senternya makin luas. Sebaliknya semakin dekat jarak senter dengan atap, sinarnya semakin kecil.

Surono menuturkan, gempa malam itu terjadi akibat penujaman dari lempeng Australia dengan lempeng Eurasia. Jadi lempeng Australia menghujam ke lempeng Eurasia.

Dengan sifat ini, Surono menuturkan gempa Tasikmalaya Jumat malam sejatinya tidak berpotensi tsunami. Meskipun gempa ini mengakibatkan kerusakan bangunan di sejumlah titik.

Menurut dia, ada beberapa kriteria gempa yang bisa memicu tsunami. Di antaranya adalah pusat gempa berada di kedalaman 10 km. “Sedangkan gempa jumat malam itu cukup dalam. Sehingga sejak awal saya sudah memperkirakan tidak akan memicu tsunami,” ucapnya.

Analisis Surono itu ternyata tepat. Meskipun beberapa saat setelah gempa ada peringatan dini tsunami di beberapa daerah, tetapi tidak terjadi. Sebelumnya peringatan dini tsunami itu muncul untuk kawasan Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Ciamis, Bantul, Kebumen, Kulon Progo, dan Cilacap.(bbs/aln)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up