Metropolitan

Sukabumi Diterjang Ratusan Kali Bencana

CIKEMBAR – Sepanjang Januari-November 2016, jumlah bencana di Kabupaten Sukabumi mencapai 593 kejadian. Nilai kerugian akibat bencana itu mencapai hampir Rp38 miliar.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kabupaten Sukabumi, jumlah bencana itu terdiri dari 302 longsor, 92 kebakaran, 51 banjir, 69 angin kencang, 1 gempa, 5 pergeseran tanah, dan 19 kejadiannya merupakan bencana lainnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sukabumi Usman Susilo mengatakan, bencana yang terjadi di Kabupaten Sukabumi masih didominasi tanah longsor. Sejauh ini Kabupaten Sukabumi terpetakan sebagai daerah rawan longsor. “Hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Sukabumi ini rawan longsor,” ujar Usman kepada Sukabumi Ekspres, kemarin (4/12).

Dampak bencana tersebut, kata Usman, sebanyak 1.059 kepala keluarga atau sebanyak 3.556 jiwa menjadi korban. Bahkan ada sejumlah orang di antaranya meninggal dunia. “Ada beberapa orang yang meninggal akibat bencana di Kabupaten Sukabumi. Namun untuk jumlahnya masih kami rekap,” ucapnya.

Kerusakannya sendiri, kata Usman, ada sebanyak 467 rumah yang rusak berat, 303 rumah rusak sedang, dan 697 rusak ringan. Di mana sebagian bangunan tersebut sudah tertangani BPBD Kabupaten Sukabumi. “Kerusakan ini belum termasuk yang di Kecamatan Cidolog,” ungkapnya,

Sedangkan untuk jumlah kerugian masyarakat akibat bencana itu mencapai puluhan miliar rupiah. “Jumlah kerugian masyarakat akibat bencana selama ini mencapai 38 miliar lebih,” terangnya.

Usman menambahkan, saat ini Kabupaten Sukabumi masuk siaga darurat bencana. Hal itu mengikuti Jawa Barat. Sebab, Jawa Barat statusnya siaga. “Di Jawa Barat statusnya siaga. Otomatis Sukabumi juga statusnya siaga. Sebab di-cover oleh Jawa Barat,” jelasnya.

Namun demikian, lanjut Usman, di beberapa kecamatan di Kabupaten Sukabumi saat ini statusnya masih tanggap darurat bencana. Sebab sebelumnya sempat terjadi bencana. “Beberapa kecamatan ada yang statusnya berbeda,” pungkasnya.

Sementara itu, Bubun (46), warga Kampung Tanggeung Desa Bojongsari Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi tewas tertimbun material tanah longsor, Sabtu (3/12) petang. Jasadnya ditemukan tim pencarian gabungan kemarin (4/12) pagi sekitar pukul 08.00 WIB.

Berdasarkan informasi kejadian nahas yang dialami korban saat dirinya tengah mencari rumput di atas tebing setinggi sekitar 25 meter. Saat itu kondisi di sekitar lokasi diguyur hujan deras. Diduga tanah di atas tebing yang dipijak korban labil sehingga terjadi longsor. Korban diduga tertimbun material tanah longsor.

“Hasil assesment relawan PMI dari pihak keluarga dan warga, korban diketahui pada Sabtu (3/12) pukul 14.00 WIB mencari rumput di sekitar lokasi kejadian. Biasanya, pada pukul 16.00 WIB korban sudah pulang. Tapi waktu itu hingga menjelang malam korban tak pulang ke rumah,” terang Humas PMI Kabupaten Sukabumi Atep Maulana, kemarin (4/12).

Pihak keluarga yang curiga dengan tidak pulangnya korban lantas mendatangi tempat terakhir korban diketahui mencari rumput. Di lokasi itu pihak keluarga, warga, serta relawan PMI mendapati material tanah dari tebing longsor nyaris menutupi aliran sungai. “Kami langsung mencari jasad korban di timbunan tanah longsor hari itu juga hingga malam,” tambah Atep.

Namun proses pencarian hingga Sabtu malam tak berbuah hasil. Laporan hilangnya warga tertimbun longsor ditindaklanjuti PMI yang berkoordinasi dengan elemen lainnya, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Basarnas, aparat polsek dan TNI setempat, warga, serta anggota pramuka peduli. “Kami lanjutkan pencarian sejak pagi tadi (kemarin) dengan cara menggali material timbunan tanah longsor,” jelas Atep.

Upaya itu membuahkan hasil. Hampir dua jam proses pencarian, sekitar pukul 08.00 WIB, jasad korban ditemukan tak jauh dari tempat longsoran dekat aliran sungai. “Saat ditemukan jasad korban dalam posisi menelungkup,” sebutnya.

Bersamaan masih tingginya curah hujan sampai saat ini, PMI Kabupaten Sukabumi meningkatkan kewaspadaan kerawanan potensi bencana alam. Satu di antara upaya itu dengan menyiagakan personel selama 24 jam setiap harinya, termasuk relawan di setiap kecamatan. “Potensi bencana saat ini memang relatif tinggi. Curah hujan sangat tinggi sehingga bisa memicu berbagai potensi bencana, utamanya tanah longsor dan banjir bandang,” tandasnya. (job3/*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up