Metropolitan

Sukabumi Diterjang 543 Kali Bencana

FOTO1

Masih Didominasi Tanah Longsor

CIKEMBAR – Selama Januari hingga November tahun ini, Kabupaten Sukabumi diterjang 543 kali berbagai bencana alam. Dari berbagai kejadian itu, hampir separuhnya merupakan bencana tanah longsor.

“Dari hasil rekapitulasi data, jumlah bencana tanah longsor sebanyak 244 kali,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Usman Jaelani, didampingi Koordinator Pusdalops Yana Rusyana, kemarin.

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPBD, kejadian bencana selama Januari hingga November yakni tanah longsor sebnayk 244 kali, kebakaran sebanyak 107 kali, banjir tercatat sebanyak 36 kali, angin kencang sebanyak 67 kali, gempa bumi dua kali, pergerakan tanah 21 kali, tenggelam satu kali, dan lain-lain sebanyak 65 kali. “Dari berbagai kejadian bencana itu, lima orang meninggal dunia dan 11 orang luka,” tukasnya.

Pemkab Sukabumi sudah menetapkan status siaga darurat bencana banjir dan longsor sejak 1 Oktober dan berakhir pada 31 Desember nanti. Penetapan status siaga darurat banjir dan longsor itu didasari indikator pertimbangan relatif tingginya curah hujan yang dibarengi banyaknya kejadian bencana. Selama Oktober atau saat tingginya intensitas curah hujan, jumlah berbagai kejadian bencana mencapai 113 kali terdiri dari kebakaran sebanyak 11 kali, longsor sebanyak 67 kali, banjir sebanyak 12 kali, angin kencang sebanyak 12 kali, pergerakan tanah sebanyak empat kali, dan bencana lain sebanyak 7 kali.

“Sementara pada November terjadi 50 kali bencana. Kebakaran sebanyak 10 kali, longsor sebanyak 22 kali, angin kencang dan pergerakan tanah masing-masing sebanyak lima kali, pergerakan tanah sebanyak satu kali, dan bencana lain-lain sebanyak 7 kali,” bebernya.

Kabupaten Sukabumi saat ini berada di peringat keenam dari 136 daerah rawan bencana di Indonesia. Kondisi tersebut membuat wilayah terluas di Pulau Jawa dan Bali itu berada di zona merah rawan bencana. Dengan telah ditetapkannya status siaga darurat longsor dan banjir, maka BPBD harus selalu siap siaga menghadapi berbagai potensi ancaman kebencanaan.

“Saat ini dari prakiraan BMKG curah hujan masih cukup tinggi. Kami terus koordinasi dengan elemen lainnya sebagai bentuk antisipasi dan siaga menghadapi berbagai potensi ancaman kebencanaan,” tandasnya.

Sekda Kabupaten Sukabumi Iyos Somantri mengatakan Kabupaten Sukabumi berada di zona merah rawan bencana.

“Hasil pemetaan bencana, wilayah kita (Kabupaten Sukabumi) masuk dalam zona merah rawan bencana di Indonesia. Posisinya berada di peringkat keenam dari 136 kota dan kabupaten rawan bencana di Indonesia,” tutur Iyos, belum lama ini.

Iyos yang juga ex-officio kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) itu menyebut potensi bencana Kabupaten Sukabumi relatif cukup komplit. Apalagi dengan intensitas curah hujan relatif tinggi saat ini, potensi bencana meliputi banjir, gempa, pergeseran tanah, longsor, serta angin puting beliung. “Bencana banjir, gempa, pergeseran tanah, longsor, serta puting beliung, paling sering terjadi di Kabupaten Sukabumi,” tukas Iyos.

Saking seringnya terjadi bencana, Iyos menyebut jumlahnya bisa melebihi hitungan hari dalam satu tahun. Upaya antisipasi maupun penanganan kebencanaan bukan hanya tugas pemerintah saja. “Masyarakat juga harus mendapatkan gambaran bagaimana cara menghadapi sebuah bencana. Warga harus dibekali pengetahuan dasar menghadapi sebuah bencana agar mereka tidak panik,” tegasnya.

Iyos juga memandang perlu adanya pendampingan sosial di wilayah pascabencana di Kabupaten Sukabumi. Utamanya pendampingan dari BPBD maupun perangkat daerah teknis lainnya. “Kita harus menyamakan persepsi bagaimana menyusun strategi penanggulangan sebuah bencana di Kabupaten Sukabumi,” tuturnya.

Karena itu, lanjut dia, setiap perangkat daerah teknis harus intensif berkomunikasi dan berkoordinasi agar bisa memberikan solusi dari setiap permasalahan. Semua masukan, saran, maupun rekomendasi dari setiap perangkat daerah berkompeten tentunya menjadi bentuk gambaran yang nantinya bisa diimplementasikan sebagai upaya penanganan kebencanaan. “Sebagai penyelenggara upaya penanganan dan penanggulangan bencana, tentunya kita harus bisa membuat gambaran utuh untuk diimplementasikan di lapangan,” pungkasnya.(red)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2015 The Mag Theme. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

Scroll Up