Metropolitan

Sidang Lanjutan Pasar Pelita Istimewa

FOTO1

Hadirkan Saksi Wali Kota dan Mantan Sekda

SUKABUMI – Sidang lanjutan kasus tipu gelap uang pedagang pasar pelita oleh PT Anugerah Kencana Abadi (AKA) senilai Rp7,3 miliar, kemarin (21/12) istimewa.

Pasalnya, Wali Kota Sukabumi Muhamad Muraz dan Mantan Sekda Kota Sukabumi Hanafie Zain, hadir memenuhi panggilan Pengadilan Negeri (PN) untuk menjadi saksi sidang ke sepuluh ini.

Dari pantauan, tepat pukul 10.00 WIB Muraz tiba di PN Kota Sukabumi dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Turut hadir Wakil Wali Kota Sukabumi Achmad Fahmi dan politikus Kota Sukabumi Andri Setiawan Hamami. Serta disambut ratusan simpatisan dari sejumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) dilingkungan Pemerintahan Kota Sukabumi, anggota ormas, serta elemen masyarakat lain.

“Kita hadir disidang ini untuk memberi dukungan moril kepada Pak Wali,” ungkap Ketua Forum Petani Kota (Forpetankot) Sukabumi, Meki Mahmudin kepada Sukabumi Ekspres, kemarin (21/12).

Sementara sidang lanjutan baru dimulai pukul 10.30 WIB, dengan masuknya majelis hakim ke ruang persidangan. Sekitar 1 jam 25 menit Muraz menjawab dengan lugas pertanyaan dari jaksa dan majelis hakim, di Ruang Sidang Utama PN Kota Sukabumi, hingga selesai sekitar pukul 11.55 WIB. Sidang diskors oleh Majelis Hakim selama beberapa menit.

“Tadi dengar sendiri, enggak masalah saya,” ujar Muraz.

Lanjut Muraz, sebelumnya belum bisa hadir karena sedang tugas dinas di luar kota. Jika memiliki tugas lain, kata dia, atau di luar kota. Saksi diminta oleh jaksa dapat tidak hadir jika ada tugas kenegaraan. “Atau kepentingan yang lain berdasarkan pasal 62 KUHP,” jelasnya.

Usai diskors, sidang kasus yang sama dilanjutkan dengan menghadirkan mantan Sekda Kota Sukabumi Hanafie Zain. Mantan bos PNS ini membeberkan fakta-fakta di hadapan Majelis Hakim dan tim Jaksa Penuntut Umum (JPU). Hanafie juga dengan penuh rasa tenang menjawab satu per satu pertanyaan pertanyaan dilontarkan Majelis Hakim.

Tak jauh beda dengan pertanyaan yang dilontarkan pada Muraz, Majelis Hakim yang dipimpin AA Oka Parama sempat menanyakan ikhwal investasi bodong PT AKA dan langkah pemerintah usai pembangunan Pasar Pelita menemui jalan buntu.

“Kita lakukan evaluasi terhadap apa yang dilakukan PT AKA. Kita memberi laporan ke Wali Kota. Lalu pemerintah memberikan teguran pada PT AKA. Setelah diberi teguran, tidak ada respon apapun dari pihak PT AKA,” beber Hanafie sambil membacakan catatan yang dia pegang.

Mulanya, Hanafie mengaku tidak mengetahui bahwa PT AKA memungut sejumlah uang kepada para pedagang. Dia baru mengetahui hal tersebut setelah ada laporan yang masuk ke Pemkot Sukabumi.

Segera setelah cikal-bakal permasalahan tercium, Pemkot, kata Hanafie, langsung melakukan tindakan tegas dengan menghentikan kegiatan PT AKA.

“Tidak tahu PT AKA menjual kios kepada para pedagang. Tidak tahu telah terjadi pemungutan uang kepada para pedagang. Kami baru tahu setelah ada laporan. Pedagang waktu itu ada yang lapor kepada walikota. Waktu itu tahun 2016,” sambung Hanafie di hadapan Majelis Hakim.(hrl/ndi/aln)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up