Pendidikan

Perpres 87/2017 Lebih Akomodatif

SUKABUMI – Guru sekolah menengah atas di Kota Sukabumi menyambut baik terbitnya Peraturan Presiden Nomor 87/2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Peraturan itu dinilai lebih berwajah situasional dan kondisional, terutama berkaitan dengan program full day school.

“Perpres Nomor 87/2017 ini sebetulnya menggantikan Permendikbud Nomor 23/2017. Saya kira perpres ini akomodatif dan lebih menekannya pentingnya PPK (Penguatan Pendidikan Karakter),” terang Dudung Nurullah Koswara, guru sejarah di SMAN 1 Kota Sukabumi, belum lama ini.

Secara umum, kata Dudung, pada prinsipnya SMAN 1 Kota Sukabumi sendiri sudah siap melaksanakan Perpres Nomor 87/2017 itu. Pun sekolah lainnya, Dudung melihat, mayoritas sudah siap. “Banyak yang sudah siap, terutama jenjang menengah,” tukas Dudung yang juga Ketua PGRI Kota Sukabumi itu.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Sukabumi Dudi Fathul Jawad mengapresiasi terbitnya Peraturan Presiden Nomor 87/2017. Aturan itu tentunya menjadi sebuah jawaban keresahan masyarakat terhadap polemik program full day school.

“Pada prinsipnya kami menyambut baik adanya perpres ini. Terjawab sudah kegelisahan masyarakat saat ini, terutama dalam pengelolaan madrasah diniyah. Ternyata pemerintah melalui peraturan presiden memberikan keleluasan kepada sekolah untuk menjabarkan aturan itu. Artinya tidak ada kewajiban yang sifatnya memaksa,” kata Dudi kepada Media Indonesia, kemarin.

Pertimbangan lain Dudi mengapresiasi perpres itu didasari sekolah yang mampu mengejawantahkan pendidikan budi pekerti melalui kegiatan sehari-hari, tentunya lebih bagus. Misalnya dilaksanakannya pendidikan keagamaan dan lainnya. “Hanya saja bagi siswa yang sudah bersekolah di madrasah diniyah jangan diganggu,” ujarnya.

Pun berkenaan dengan program pendidikan full day school. Dudi melihat, bagaimanapun juga kondisi masyarakat, khususnya di Kota Sukabumi, belum siap melaksanakan pendidikan hingga sore. “Kita melihat dan aspek psikologis anak misalnya. Dia pasti capek jika harus dipaksa belajar hingga sore. Terus ketika Sabtunya libur, mereka tidak punya kegiatan lain. Lebih baik kan Sabtu juga masih digunakan untuk belajar atau kegiatan positif lainnya. Harus diperhatikan juga soal faktor ekonomi. Jika bersekolah hingga sore, tentunya harus ada added cost (biaya tambahan). Nah, mampukah semua orangtua memberikan tambahan biaya itu. Tapi kalau memang sekolah itu mampu mempertahankan pendidikan berkarakter, tentunya bagus. Artinya kegiatan saat sore terpantau,” tegasnya.

Karena itu, sebut Dudi, terbitnya Perpres 87/2017 tentunya bisa menjadi solusi akomodatif terhadap berbagai fenomena pendidikan di Indonesia saat ini. Saat ini sudah jelas masyarakat tak perlu resah lagi karena pemerintah sudah memerhatikan situasi dan kondisi masyarakat. “Perpres itu memberikan kewenangan penuh kepada setiap sekolah. Dulu sudah pernah ada surat edaran dari gubernur agar setiap daerah menunda dulu kegiatan lima hari sekolah,” pungkasnya.(hyt)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up