Opini

Kondisi Ibu Masih Mengkhawatirkan

Anggota Komisi X DPR Reni Marlinawati

Oleh
Dr. Hj. Reni Marlinawati
(Anggota DPR RI, Komisi X, Ketua Fraksi PPP)

Kesejahteraan rakyat merupakan kewajiban negara yang harus dilaksanakan, sebab itu adalah amanat pembukaan UUD 1945. Namun hingga kini kesejahteraan bagi kalangan Ibu masih belum begitu dirasakan. Tingginya angka kematian Ibu saat melahirkan menjadi salah satu indikatornya.

Secara resmi negara tidak membedakan setiap warga negara baik itu laki-laki maupun perempuan. dalam UUD NRI 1945, Pasal 27 ayat (1) yang menyatakan bahwa: “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.” Selain itu, UUD 1945 hasil amandemen kedua Pasal 28D ayat 1 memberikan jaminan terhadap pengakuan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil dan perlakuan yang sama, bagi setiap orang.

Lebih lanjut, UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM bahkan secara khusus mengatur mengenai hak perempuan. Pasal 46 menyatakan bahwa “Sistem pemilihan umum, kepartaian, pemilihan anggota badan legislatif, dan sistem pengangkatan di bidang eksekutif, yudikatif harus menjamin keterwakilan wanita sesuai persyaratan yang ditentukan”. Demikian juga dengan UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas), dimana tak ada satu pasal atau ayat pun yang membedakan pendidikan untuk laki-laki dan perempuan.

Meski secara normatif tak ada diskriminasi, namun pada prakteknya sering terjadi diskriminasi. Karena itu, peran serta perjuangan kalangan perempuan Indonesia, yang pada akhirnya diperingati sebagai hari Ibu, tidak bisa dipandang sebelah mata. Organisasi pergerakan perempuan di Indonesia muncul sejak awal abad ke 20, mereka memperjuangkan hak-hak perempuan agar diberikan sebagaimana mestinya sesuai dengan fitrahnya sebagai perempuan.

Penghormatan terhadap perempuan/Ibu yang dikukuhkan melalui Hari Ibu pada 22 Desember tidak hanya terjadi di Indonesia, namun terjadi juga di berbagai belahan dunia, dengan hari dan tanggal yang berbeda. Di Amerika, Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Hong Kong, hari Ibu atau mother’s day dirayakan pada hari minggu, minggu kedua bulan Mei. Sedangkan di beberapa negara Eropa ada Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day yang diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Realitas Ibu

Angka kematian Ibu menjadi salah satu persoalan serius bagi bangsa ini. Sebuah majalah kesehatan menuliskan bila Anda seorang ibu yang akan melahirkan anak, risiko Anda meninggal dunia sepuluh kali lipat rekan Anda di Malaysia dan Sri Lanka. Angka kematian ibu (AKI) masih sangat tinggi di Indonesia. Setiap tahun, sekitar 20 ribu ibu Indonesia meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan.  Sebanyak 259 ibu meninggal dunia pada setiap 100.000 kelahiran hidup. Angka itu lebih dari sepuluh kali AKI Malaysia (19) dan Sri Lanka (24). Pada akhir tahun 2015 saja, WHO melaporkan setidaknya 303,000 wanita di seluruh dunia meninggal menjelang dan selama proses persalinan. Di Indonesia sendiri, sepanjang tahun 2011-2015 terdapat 126 kasus kematian ibu tiap 100,000 proses persalinan sukses. (majalahkesehatan.com)

Kematian Ibu saat melahirkan ini sebenarnya dapat dicegah. Salah satunya adalah jika pemerintah menyediakan sistem kesehatan yang mudah dijangkau oleh semua ibu di berbagai pelosok daerah, dan dengan biaya yang relatif murah, sebagai solusi pencegahan dan penanganan darurat dari segala komplikasi kehamilan dan persalinan. Diharapkan dengan tersedianya pelayanan kesehatan yang mudah diakses, aman dan berkualitas, kematian ibu melahirkan dapat dicegah sehingga angka kematian Ibu dapat diturunkan.

Jika melihat kondisi para Ibu dengan angka kematian yang sangat tinggi, maka sesungguhnya Ibu mempunyai tempat yang sangat terhormat, khususnya dalam ajaran Islam.

Namun sayangnya, di era yang sudah berkembang seperti saat ini, perjuangan kalangan perempuan mengalami distorsi makna. Kesetaraan laki-laki dan perempuan menjadi semboyan perjuangan kalangan feminis untuk mensejajarkan laki-laki dan perempuan. Lebih dari pada itu, bahkan muncul sikap ekstrem yaitu menegasikan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan.

Dalam hal mensejajarkan laki-laki dan perempuan dalam hal pekerjaan mungkin masih dapat dimengerti. Namun mensejajarkan laki-laki dan perempuan dalam semua bidang adalah hal yang mustahil. Sebab ada tiga ketentuan yang sudah digariskan oleh Sang Maha Pencipta untuk membedakan antara laki-laki dan perempuan.

Pertama, perempuan dapat menstruasi sementara laki-laki tidak dapat menstruasi. Menstruasi merupakan sesuatu yang bersifat fitrah pemberian dari Allah swt, bagi kaum Hawa. Menstruasi bagi kalangan perempuan adalah sebuah anugerah, kita tidak dapat menolak atau memintanya, sebab menstruasi yang ada pada kalangan perempuan merupakan konsekuensi dari struktur organ tubuh kita sebagai perempuan.

Kedua, perempuan dapat hamil, sedangkan laki-laki tak dapat hamil. Banyak kalangan terutama kalangan pesohor yang mengganti jenis kelamin, sebab merasa dirinya berjenis kelamin tidak seperti yang diinginkannya, baik laki-laki menjadi perempuan atau perempuan menjadi laki-laki. Dengan segala bantuan teknologi, jenis kelamin mungkin dapat ‘diganti’, namun esensi dari fungsi jenis kelamin tak akan pernah bisa diganti. Sebab jenis kelamin merupakan alat untuk memproduksi keturunan, maka ketika jenis kelamin itu dirubah, maka akan mengganggu atau bahkan merusak proses produksi itu sendiri.

Ketiga, perempuan dapat menyusui, sementara laki-laki tak dapat menyusui. Menyusui merupakan anugrah Ilahi yang sangat besar. Banyak kalangan yang merubah jenis kelamin, pada umumnya dari laki-laki menjadi perempuan, sekaligus merubah organ tubuh, dengan bantuan teknologi bagian dada laki-laki dapat berubah menjadi payudara secara fisik.

Namun meski mempunyai bentuk yang sama seperti payudara, payudara buatan tetap tak dapat mengeluarkan ASI. Disinilah kebesaran Sang Maha Pencipta meski secara fisik ciptaan Allah dapat diserupai manusia, namun tetap berbeda.

Bertitik tolak dari kondisi fisik yang berbeda antara laki-laki dan perempuan, maka secara fitrah laki-laki dan perempuan jelas berbeda. Karenanya pada kehidupan social, ekonomi, politik, pertahanan, keamanan dan budaya peran laki-laki dan perempuan tidak bisa disamakan.

Apa yang laki-laki bisa lakukan, akan bisa juga dilakukan oleh perempuan, sebaliknya tiga kondisi di atas jelas tidak akan pernah bisa dilakukan oleh laki-laki. Dengan demikian jelas bahwa perempuan mempnyai peranan yang lebih banyak dibandingkan laki-laki. Karenanya kalangan perempuan jangan terjebak dalam pikiran bahwa perempuan harus sama dengan laki-laki. Ini jelas sebuah kerancuan berpikir.

Apalagi jika kita berkaca dari ajaran Islam, ketika baginda Rasulullah ditanya, “siapakah yang harus dihormati ?” Rasulullah menjawab, “ibumu”, “siapa lagi ya Rasulullah?”, “ibumu”, “siapa lagi ya Rasulullah?”, “ibumu” “siapa lagi ya Rasulullah?”, “kemudian ayahmu”.

Bayangkan betapa mulianya kaum Ibu dimata ajaran Islam, Rasulullah sampai menyebut tiga kali untuk Ibu dan ayah satu kali. Sebagai penutup betapa mulianya kalangan Ibu, Rasulullah pernah mengatakan, “syurga berada di bawah telapak kaki Ibu,”. Karenanya kita sebagai kaum Ibu jangan menyia-nyiakan kemulian yang Allah berikan dengan menyibukan diri ingin sejajar dengan laki-laki. Dalam banyak hal perempuan dan laki-laki banyak kesamaan, namun yang jelas dan pasti ketiga hal tersebut di atas tak akan pernah bisa disamai oleh kaum laki-laki.

Orientasi Perjuangan

Di Indonesia sendiri, hari Ibu jatuh pada tanggal 22 Desember, yang kita peringati setiap tahun, secara resmi ditetapkan oleh Presiden Soekarno melalui dekrit Presiden No.316 tahun 1959. Peringatan hari Ibu tersebut bermula dari Kongres Perempuan Indonesia I yang diselenggarakan pada 22 s/d 25 Desember 1928 bertempat di Yogyakarta. Gedung Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto, Yogyakarta menjadi saksi sejarah berkumpulnya 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Perjuangan perempuan Indonesia yang kemudian disatukan dalam kongres pada awalnya adalah pergerakan perempuan yang bersifat sporadis di berbagai daerah. Misalnya Cut Nya Dien dan Cut Mutiah di Aceh, R.A.Kartini di Jawa, Walanda Maramis di Indonesia Timur, Dewi Sartika di Jawa Barat, dan Nyai Achmad Dahlan di Yogyakarta dll.

Perjuangan perempuan Indonesia merupakan respon terhadap penjajah yang tidak manusiawi, khususnya terhadap kalangan perempuan. Penjajahan yang dilakukan pihak asing membuat rakyat Indonesia sangat sengsara. Kalangan perempuan yang menjadi buruh di berbagai perusahaan diperlakukan sangat tidak manusiawi. Maka pada Juli 1935 kalangan perempuan kembali mengadakan Kongres Perempuan Indonesia II yang melahirkan keputusan dibentuknya BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh perempuan di berbagai perusahaan khususnya perusahaan batik di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Perjuangan perempuan Indonesia tidak berhenti hanya pada kasus perkasus, namun perjuangan perempuan mempunyai visi yang sangat maju ke depan. Kalangan pergerakan perempuan menginginkan adanya persatuan perempuan Nusantara, keterlibatan aktif perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, keterlibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, keterlibatan perempuan dalam membebaskan perdagangan perempuan, pencegahan terhadap kematian perempuan saat melahirkan dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa angka kematian Ibu masih tinggi di negara ini. Pemerintah harus lebih meningkatkan lagi kesejahteraan yang ditujukan untuk pelayanan para Ibu khususnya. Gerakan perempuan juga harus lebih berorientasi kepada tuntutan hak perempuan yang secara kodrati Allah berikan, seperti cuti hamil, melahirkan dan menyusui adalah hak yang kodrati harus dimiliki oleh kalangan perempuan. Karena itu visi perjuangan perempuan perlu diarahkan untuk memuliakan derajat perempuan itu sendiri, khususnya status sebagai Ibu. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up