Featured

Keluarga Sudah Tahlilan, Nelayan Sanger Diselamatkan Warga Biak

FOTO4

Sebulan Terombang-ambing di Laut Lepas

Lima nelayan asal Sanger, Sulawesi Utara, satu bulan lebih hanyut di tengah laut bebas karena mesin kapal yang rusak. Keluarga pun sudah pasrah, bahkan sudah lakukan tahlilan. Mereka mampu bertahan hidup, hingga ditolong warga di Kepulauan Padaido Kabupaten Biak Numfor. Bagaimana kisah perjuangan mereka?

ISMAIL, Biak

JUMAT 8 Desember 2017, seperti hari biasanya, kapal Nelayan milik Lasdi Hamka, KM Hasrat berlayar keluar dari Pulau Kawaluso Sangihe Sulawesi Utara, menuju perairan utara, berjarak sekitar 40-50 mil dari pantai untuk mencari ikan.

Lasdi ditemani seorang putranya Andika Hamka, dan tiga ABK lainnya Buhanuddin Tompo, Feri Tampilang, dan Muliadi Manderes. Pulau ini berada tidak jauh dari perbatasan Indonesia-Filipina.

Bulan Desember bagi nelayan memang masa mengkhawatirkan untuk melaut, karena kondisi laut kurang bersahabat. Namun, itu tak menyurutkan semangat mereka mencari sesuap nasi guna menghidupi keluarga di rumah.

Setelah beberapa lama di laut, Coolbox yang mereka bawa terisi banyak ikan, Lasdi akhirnya memerintahkan untuk menarik jangkar. Bersiap pulang.

Namun tak diduga, ternyata mesin kapal setengah fiber itu mengalami gagal engine. Mesin truk bekekuatan 5 GT yang disematkan didalam kapal, tak mau menyala.Mesin di ‘engkol’ bergantian, tapi tetap tidak bereaksi. Pulau semakin lama semakin menjauh.

“Ada apa ini? Setelah diperiksa, mesin mengalami kerusakan, karena air laut tercampur di dalam tangki pengisian bahan bakar. Mesin tak mau dihidupkan lagi,” ujar Lasdi Hamka bercerita didampingi empat orang ABK lainnya ditemui di Kantor SAR Biak.

Setelah  terdampar dan mendapat di warga di Pulau Padaido, Lasdi dievaluasi oleh warga dan menginap selama dua malam di Kantor SAR Biak. Meski terlihat lemas, Lasdi masih tetap antusias melanjutkan kisahnya terdampar di laut.

Tak terasa, sudah 80 mil jauhnya lokasi KM Hasrat dari Perairan Pulau asal mereka. Mereka mulai panik, cemas, dan perasaan campur aduk lainnya. Apalagi, tidak ada signal, sehingga sulit untuk meminta bantuan. Mereka pun menyadari semakin menjauh ke arah timur karena tiupan angin barat.

Malam pun tiba. Lasdi dan seluruh ABK tidak henti-henti memanjatkan doa. Kapal bersemang berwarna putih biru mulai terombang-ambing ke arah timur. Semakin jauh.

Tiga hari sudah diatas kapal. Bekal makanan sudah habis. Ikan hasil tangkapan terpaksa dimakan. Buah kelapa hanyut dikumpulkan. Sebagai sumber air minum tambahan. Pasokan minuman pun mulai memprihatinkan.

Kapal semakin jauh, terbawa arus ombak hingga 850 mil. Semakin jauh. Tak ada daratan. Secercah harapan sempat muncul, saat kapal besar yang lewat, sempat dipanggil namun tak merespon. Lasdi hanya beranggapan buruk saat itu.

“Kami mungkin dikiranya perompak atau pembajak. Karena kapal kita terlihat masih bagus,” jelas pria asal Bone Sulsel itu seperti dikutip Cendrawasih Pos (Jawa Pos Group), Kamis (11/01).

Putus asa. Ya, hampir seluruh ABK mulai merasakan itu. Apalagi dalam kapal ada salah satu anak yang masih berusia 14 tahun, putus sekolah, dan memilih untuk melaut bersama mereka saat

itu.Lasdi berinisiatif untuk pantang memikirkan hal-hal yang buruk, pantang untuk bersikap lemas, meski tidak pungkiri dia merasakan yang sama.

“Itu supaya ABK juga bersemangat. Kita harus tetap memberikan motivasi kepada mereka, bahwa pasti Allah punya jalan untuk kita,” ujar Duda tiga anak ini.

Menurut perkiraan Lasdi, jika angin membawa mereka ke arah timur, berarti mereka kurang lebih berada di atas perairan Halmahera Maluku Utara.

Nyaris daratan tak terlihat sudah dua minggu lamanya. Cerita mereka pun habis di tengah lautan. Menghitung hari demi hari, berharap adanya keajaiban pertolongan.

Satu persatu baju ABK jadi korban. Batu baterai dijadikan pemantik api sederhana, karena kehabisan korek. Baju dibakar, ditengah laut. Untuk bakar ikan yang mereka tangkap selama di perjalanan mengusir kebosanan. Ikan dan kelapa hanyut. Jadi santapan mereka selama hanyut di laut lepas.

Jika ada ikan yang tersisa, ikan itu bahkan dijemurnya diatas tango atau atap perahu. Perlahan mereka pun memikirkan sebuah ide untuk menjadikan terpal, dan kain-kain yang ada termasuk baju mereka sebagai layar darurat. Dia hanya berharap angin barat membawa mereka terdampar di sebuah pulau berpenghuni.

Tiga minggu tak ada kabar berita, keluarga di rumah pun sudah menggelar tahlilan, tiga hari, tujuh hari, dan hampir menggelar tahlilan 40 hari. Keluarga mereka seraya terus memanjatkan doa, ikhlaskan semua pada Allah SWT.

“Ikan kalau sudah kena matahari selama siang, sore harinya langsung kita makan lagi. Kalau ada kelapa hanyut kita pakai minum bersama. Kadang ada satu buah, dibagi lima orang. Saya lebih merasakan penderitaan anak-anak saya di atas kapal, karena mereka menjadi tanggung jawab saya, jadi saya positif kita pasti selamat,” ujarnya.

Hari demi hari mereka lalui di atas kapal ukuran 14 meter X 2,4 meter dengan berdoa dan menghibur dan saling menguatkan.

Satu persatu pun dari mereka mulai bercerita pengalaman masing-masing. Ternyata keluarga menjadi mimpi mereka untuk bertemu langsung secepatnya. Tepat hari Jumat pertama awal tahun,  tepatnya 5 Januati 2018, Lasdi merasakan angin yang berbeda. Dia berfirasat bahwa angin akan membawa mereka ke satu pulau.

Benar saja, pada pagi hari itu dia melihat ada desiran ombak yang begitu kuat, menandakan karang panjang yang dilalui. Daratan ini pasti akan terlihat. Dari buritan kapal, ABK meneriakkan ada pulau.

Lasdi harap-harap cemas. Bagaimana kalau itu pulau yang tidak ada penghuninya, bagaimana kalau kita terdampar terlalu jauh bagaimana kita bisa pulang kembali. Bagaimana kalau seandainya kami terdampar dan dimakan oleh binantang buas. Begitu pikir Lasdi.

Dia pun mengajak untuk salat Jumat bersama di atas Kapal. “Kita panjatkan doa supaya angin bisa membawa kita ke tempat yang memang kami ingin lihat. Daratan,” jelas Lasdi.

Benar saja. Daratan mulai terlihat. Pulau Padaidori, salah satu gugusan kepulauan di Distrik Aimando Kepulauan Padaido, Kabupaten Biak Numfor menjadi persinggahan awal setelah hampir satu bulan mereka terkatung-katung di laut.

Kepala kampung setempat bersama warga yang melihat kapal itu menarik kapal Lasdi menggunakan kapal nelayan ke Pulau Mbromsi Padaido. “Kami dibawa ke rumah mereka. Kami diselamatkan. Alhamdulillah, mereka berbahasa Indonesia. Hilang cemas kami. Saya terharu dan ucapkan beribu terimakasih atas bantuan warga Papua, khususnya di Biak dan di pulau Padaido,”imbuh Lasdi bersama anaknya Andika.

Setelah diselamatkan dan dievakuai ke rumah warga, Lasdi mencari chargeran, dan menyalakan handphone. Ternyata signal on.

Orang pertama yang dia hubungi adalah keluarga di kampung.

Seluruh anggota keluarga dan  para nelayan ini menceritakan kejadian yang menimpa mereka. Satu kampung bersorak gembira. Mereka siap disambut sepulangnya dari Papua nanti.

“Katanya, keluarga sudah tahlilan, hampir mau baca doa 40 hari. Kami ada di sini pasti ada hikmahnya. Syukur perlakuan yang kami terima sangat bersahabat, warga di sini baik-baik sekali,” jelas Lasdi yang kan dipulangkan dengan bantuan tim SAR Biak.(nas/jpg/JPC)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up