Bandung

Isteri Gubernur Nyatakan Pelajar SD Tewas Akibat Pembuluh Darah

Netty Heryawan, Ketua P2TP2A Jabar

BANDUNG – Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi Jabar terus memantau perkembangan terkait dengan meninggalnya SR, 8, pelajar kelas II SD Negeri Longkewang, Desa Hegarmanah, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, yang diduga akibat perundungan.

Ketua P2TP2A Jabar Netty Heryawan menyatakan prihatin atas peristiwa meninggalnya siswa SD tersebut. Sebelumnya diberitakan bahwa korban meninggal di halaman sekolah setelah bertikai dengan teman sekelasnya. Namun, pihak sekolah membantah hal tersebut. Korban disebut hanya dilempar minuman beku dan mengenai telinganya.

Menurut Netty ada yang perlu diluruskan terkait peristiwa tersebut. Ia membenarkan ada pertikaian, tetapi korban meninggal bukan karena pukulan atau kekerasan lainnya.

Dari hasil visum diketahui bahwa korban menderita kelainan pada pembuluh darah di otaknya sehingga terjadi pembekuan yang mengakibatkan terhambatnya aliran oksigen ke otak.

“Korban jatuh pingsan saat kejadian. Mungkin karena kaget, bukan karena pukulan, tonjokan, atau kekerasan lainnya,” tegas isteri Gubernur Jabar itu.

Ketika korban jatuh dan pingsan, pelaku yang juga anak kelas 2 SD langsung panik dan lari mencari gurunya. “Jadi, ini gambaran wajar karena bukan dipojokkan atau adanya pengeroyokan,” katanya.

Menurut dia, dalam rangka mengimplementasikan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak (UU SPPA) Nomor 11 Tahun 2012, kebijakan penanganan anak yang berhadapan dengan hukum harus dipilih sebijak mungkin. Adapun anak yang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA).

Hal tersebut, kata dia, dimaksudkan untuk menghindari dan menjauhkan anak dari proses peradilan sehingga dapat menghindari stigmatisasi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum dan diharapkan anak dapat kembali ke dalam lingkungan sosial secara wajar.

“Inilah tindakan penanganan yang dilakukan P2TP2A dan Pemda Kabupaten Sukabumi sehingga setiap masalah yang mengakibatkan masalah baru di kemudian hari bisa diantisipasi sejak dini,” kata dia.

Tak hanya itu, Netty juga mengimbau agar masyarakat yang tidak tahu duduk perkaranya tidak membentuk opini sendiri dan melakukan penghakiman secara masif terhadap pelaku sebelum mengetahui apa yang melatarbelakangi kejadian tersebut.

“Sebuah kejadian yang sudah jatuh ke ruang publik seperti media sosial dan kemudian jadi viral tentu akan membangun opini,” kata dia.

Ia mengatakan hukum memang harus ditegakkan, tetapi prinsip “restorative justice” yang ada dalam UU SPPA juga harus diperhatikan.

“Sehingga kita tahu bagaimana cara memperlakukan korban dengan keluarganya dan pelaku yang masih usia anak agar persoalan ini tidak melebar,” kata dia.

Terpisah, Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawangsa pun prihatin dengan semakin maraknya aksi perundungan atau bullying baik di masyarakat maupun tayangan video di media sosial.

Menurutnya, kasus yang terjadi kepada SR bukanlah sesuatu yang baru dan sudah terjadi sejak lama. Seperti belum lama ini terjadi kasus penganiayaan terhadap bayi oleh ibunya sendiri di Bali, kemudian seorang siswi dijambak dan dibully oleh sekelompok remaja di Tanah Abang, Jakarta.

Lebih parahnya lagi aksi perundungan dan kekerasan juga terjadi di Babelan, Bekasi yang korbannya meninggal dunia karena dibakar massa. Ironisnya semua itu menjadi viral di media massa, sehingga siapapun bisa melihat aksi kekerasan dan dianggapnya merupakan hal yang biasa saja.

Efek media sosial begitu dahsyat sehingga sebuah kejadian dapat cepat menyebar. Ditambah, ada sebuah “virus” dimana hampir setiap orang gemar menyebar berbagai kejadian ke dalam akun mereka sehingga informasi cepat terdiseminasi.

Banyaknya kasus ini seperti, menurutnya harus menjadi bahan pembelajaran bagi seluruh pihak, terutama keluarga dan sekolah apalagi korbannya sampai meninggal dunia.

“Kasus perundungan tidak hanya berbentuk kontak fisik, tetapi bisa melalui komunikasi hingga psikis yang korbannya bisa terganggu kejiwaan dan psikologinya,” tambahnya.

Khofifah mengatakan aksi perundungan tidak bisa dibiarkan begitu saja karena efeknya sangat besar. Tidak hanya si korban, pelaku pun dikhawatirkan bisa berkembang menjadi pribadi yang senang dan terbiasa dengan aksi kekerasan.

Sementara untuk korbannya, berpotensi memendam dan cenderung untuk melakukan aksi balas dendam. Parahnya lagi juga menyebabkan “suicide bullying” atau perundungan yang mengakibatkan korban memilih bunuh diri yang disebabkan depresi.

“Untuk menghentikan kasus perundungan merupakan tanggung jawab semua pihak dan kami pun akan berkoordinasi dengan lintas kementerian salah satunya Kementerian Komunikasi dan Informasi untuk menghapus berbagai konten bullying di media sosial,” tandas dia.(ant/hyt)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up