Sukabumi Raya

Ikan Asin Formalin Masih Mengintai

Konsumen Agar Lebih Teliti Memilih Ikan dan Lauk Pauk yang Aman Konsumsi

PLARA – Sejumlah pengrajin ikan asin rumahan di Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi mengaku masih menggunakan bahan pengawet jenis formalin. Hal itu terpaksa dilakukan lantaran di musim penghujan ini kesulitan mengeringkan hasil produksinya.

“Bahan kimia jenis itu terpaksa dipakai untuk mengawetkan ikan asin olahan agar tidak cepat membusuk,” kata seorang pengrajin ikan asin, Asep Saepuloh, kemarin (25/2).

Terlebih selama beberapa bulan ini, kata dia, frekuensi curah hujan relatif meningkat. Kondisi itu, tentu sangat menyulitkan pengrajin untuk mengeringkan ikan asin olahannya.

“Ya kalau tidak memakai bahan pengawet jenis itu, otomatis kami bakal merugi. Soalnya ikan asin olahan akan cepat membusuk dan menebar bau kurang sedap,” ungkapnya.

Penggunaan formalin itu diakuinya sangat membahayakan serta mengancam kesehatan konsumen. Namun sayangnya, sejauh ini tidka ada bahan pengawet lain yang bisa membantu mengawetkan ikan asin olahan.

“Terus terang saja sampai saat ini saya sendiri sebagai pengrajin bingung, tidak ada alternatif bahan pengawet jenis lainnya,” tukasnya.

Selain itu, dia mengatakan belum menemukan bahan alternatif lain yang bisa membantu memudahkan proses pengeringan ikan asin. Karena itu, setiap musim penghujan tiba selalu memanfaatkan bahan kimia jenis formalin. “Mau bagaimana lagi, terpaksa kita menggunakan itu,” ujarnya.

Dia berharap, pemerintah dapat membantu pengrajin ikan asih rumahan dengan menyediakan sarana prasarana pengering ikan asin. “Ke depan saya harap pemerintah bisa membantu pengrajin dalam penyediaan alat pengeringan pengolahan ikan asin,” pintanya.

Paling tidak, sambung dia, dengan penyediaan alat pengering tersebut pengrajin tidak terlalu mengalami kesulitan dalam mengeringkan olahan ikan asin. “Jadi manfaat alat pengering ikan asin pada musim penghujan sangat besar. Pengrajin tidak lagi harus memaksakan diri mengawetkan hasil olahannya dengan memakai bahan pengawet kimia,” paparnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sukabumi Asep Jafar mengakui sangat prihatin bila sampai saat ini pengrajin ikan asin kerap memakai bahan pengawet membahayakan jenis-jenis tersebut. Padahal pemakaian bahan pengawet jenis formalin, pemutih kayu dan pembasmi hama serangga sangat membahayakan bagi kesehatan.

“Harusnya pengrajin sudah tidak lagi memakai bahan pengawet jenis itu lagi. Soalnya sungguh sangat membahayakan bagi kesehatan,” ungkapnya.

Menurutnya, guna mengetahui seberapa jauh penggunaan bahan kimia membahayakan tersebut, pihaknya bersama instansi terkait lainnya akan segera melakukan survey langsung kelokasi pengrajin ikan asin olahan. “Kami akan segera menurunkan tim khusus untuk mengecek pengolahan ikan asin yang ada di sana,” tandasnya.

Terpisah, Sekertaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi Harun Arasyid mengungkapkan, dengan beredarkan ikan asin yang pengolahannya memakai bahan pengawet membahayakan, maka masyarakat agar bisa lebih ekstra hati-hati.

“Tentunya pemakaian bahan kimia dalam pengolahan ikan asin sudah melanggar ketentuan mengenai perlindungan konsumen. Jadi tentunya pengrajin sendiri bisa dikenai sanksi sesuai ketentuan yang ada,” tandasnya.

Dengan begitu, kata dia, setiap konsumen juga dituntut agar lebih ekstra teliti dalam memilih makanan atau lauk pauk yang akan dikonsumsinya. “Konsumen diharap lebih teliti memilih ikan atau lauk pauk agar bisa aman konsumsi,” tandasnya.(udi/aln)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up