Resto

Ciuk, Makanan Khas Sukabumi yang Banyak Diburu saat Puasa

MENGGIURKAN: Meskipun terbilang makanan tradisional, tetapi Ciuk atau Aci Suuk, menjadi buruan warga Sukabumi sebagai teman berbuka puasa.

JL A YANI – Bagi warga Sukabumi, makanan tradisional Ciwang (aci dan bawang) terbilang sulit ditemukan karena sudah jarang yang membuatnya. Bersamaan Ramadan, makanan berbahan dasar tepung sagu (aci) dan bawang itu menjadi buruan warga sebagai teman berbuka puasa.

Di Kota Sukabumi masih ada warga yang melestarikan pembuatan makanan tradisional itu. Tapi ia tak membuat makanan tradisional itu setiap hari. Ia hanya membuatnya saat Ramadan saja. Nama warga itu adalah emak Cicah, 49. Ia tercatat warga Gang Taqwa Kota Paris Kulon RT 03/07 Kelurahan/Kecamatan Gunungpuyuh Kota Sukabumi. “Saya membuatnya sesuai pesanan saja,” terang Cicah.

Cicah tak menamakan makanan itu Ciwang. Tapi ia mengubahnya menjadi Ciuk (aci dan suuk) karena makanannya nanti diguyur dengan bumbu kacang tanah (suuk). Bentuk makanan tradisional Ciuk ini sederhana, sesederhana namanya. Namun soal rasa, satu kali mencoba pasti bakal ketagihan.

Bahan dasar aci (tepung sagu) dicampur dengan berbagai bumbu lainnya, seperti bawang merah, bawang putih, garam, penyedap rasa, dan bumbu lainnya. Sambil diaduk, masukkan air sedikit demi sedikit sambil diaduk dalam wadah di atas kompor berapi kecil. Setelah matang, tuangkan ke dalam wadah kemudian setelah dingin dipotong-potong sesuai keinginan. Kemudian taburi dengan goreng bawang dan irisan seledri dan diguyur dengan bumbu kacang. “Setelah pembeli memesan, saya langsung membuatnya. Para pembeli biasanya menyimpan mamgkok (wadah) bersama uangnya. Sebelum pukul 5 sore, pesanan baru diambil,” terang Cicah.

Siapa cepat, dia dapat. Peribahasa itu berlaku jika ingin mendapatkan makanan tradisional made in emak Cicah. “Kalau tidak ada yang memesan saya tak membuatnya. Makanya, kalau mau pesan harus cepat karena jam 5 sore itu sudah pada diambil yang memesan,” sebutnya.

Cicah tak menampik orderan membuat Ciuk cukup banyak. Tapi Cicah tak mau meraup untung banyak. Dalihnya, ia tak mau pekerjaan rutin di rumah tangganya terganggu hanya karena memenui orderan pembuatan Ciuk. “Saya semampunya saja membuat Ciuk. Apalagi tempat di rumah tidak terlalu besar dan yang membantu juga enggak ada. Biasanya kalau ada pesanan saya dibantu kakak,” ujar dia.

Satu potong Ciuk hanya dibanderol Rp1.000. Cicah biasa menjualnya dengan satu paket terdiri dari tiga potong Ciuk dan dua buah gorengan karoket. Harganya memang tak sebanding dengan rasanya. Tapi Cicah tak mau menerapkan harga mahal karena memang bahan baku pembuatannya pun tidak terlalu mahal. “Alhamdulillah, meskipun harganya murah, tapi saya juga sudah punya keuntungan. Minimalnya saya bisa ikut melestarikan makanan khas Sukabumi ini,” tandasnya.

Siti Nurjanah, 43, pelanggan Ciuk warga Babakan Sirna Kelurahan Benteng Kecamatan Warudoyong, mengaku sering membeli Ciuk di emak Cicah setiap kali Ramadan. Adonan bumbu kacang sangat gurih sehingga ia kerap kali mencocolnya dengan gorengan, seperti karoket. “Kadang kebagian, kadang juga tidak. Hanya dengan uang Rp5 ribu, saya sudah dapat tiga Ciuk dan dua karoket buat mencocol bumbunya,” tandasnya sambil tersenyum. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *



Most Popular

Sukabumi Ekspres (Jawa Pos Group) merupakan surat kabar harian yang terbit di Kabupaten/Kota Sukabumi dan Cianjur. Lahir dari semangat pentingnya keterbukaan dan ketersebaran informasi hingga ke pelosok-pelosok Sukabumi, Sukabumi Ekspres menjadi spirit pembaharuan koran lokal di kota dan kabupaten.

Sukabumi Ekspres

Scroll Up