Featured

Bertaruh Nyawa karena Bekas Operasi demi Anak Laki-Laki

FOTO4

Mereka yang Memilih Punya Keturunan lewat Bayi Tabung: Liana-Andreas (2-Habis)

Menanti kehadiran buah hati menjadi perjalanan sangat panjang bagi pasangan yang sulit mendapat keturunan atau infertilitas. Penantian penuh emosi, menguras tenaga, pikiran, dan materi.

NOVITA INDRIANI, Samarinda

LIANA Pricillia dan Andreas Witono harus bersabar dan berusaha selama lima tahun untuk punya momongan. Setelah resmi menyandang status suami-istri, mereka tak bisa segera mendengar tangis bayi. Namun, setelah beragam upaya dilakukan, dari mengonsumsi jamu, pijat, menemui banyak dokter, sampai operasi, akhirnya rumah pasangan ini ramai dengan kehadiran tawa riang anak-anak.

“Setiap mendengar tempat pijat yang bagus, pasti saya coba. Tapi, ternyata tidak berhasil. Rasanya sedih, saya sampai sempat malas bergaul dan vakum ketemu teman lama. Karena sering sensi (sensitif) dan capek, setiap ketemu pasti ditanya soal anak, kenapa enggak hamil-hamil. Ada rasa iri juga, saat ketemu teman yang menikah pada tahun yang sama, dan mereka sudah punya anak,” katanya, Jumat (17/11).

Liana dan Witono menikah pada 1998. Dokter memvonis Liana tak bisa hamil secara alami. Dia mengalami polycystic ovary syndrome (PCOS) atau terganggunya fungsi ovarium. Kondisi itu membuat sel telur kecil-kecil dan tak bisa dibuahi. Selain itu, kedua saluran tuba falopinya tersumbat, sehingga sel telur tak bisa dibuahi sperma atau embrio yang terbentuk tidak dapat masuk ke rahim untuk berkembang.

“Tahun ketiga pernikahan, kami memutuskan untuk inseminasi di Jakarta tapi gagal. Sampai tiga kali inseminasi. Kemudian inseminasi yang keempat barulah hamil anak pertama. Bayi perempuan lahir pada tahun kelima pernikahan kami,” ucap perempuan berkulit putih itu.

Liana dan suami lebih memilih inseminasi. Saat itu, biaya program bayi tabung diisukan sangat mahal, Rp 250–300 juta. Sedangkan inseminasi Rp 20 jutaan. Empat kali inseminasi, berarti dia dan suami mengeluarkan kocek sekitar Rp 80 juta.

“Berjarak delapan tahun dari usia putri pertama, kami mencoba program bayi tabung. Saat itu sedang ramai pemberitaan tentang artis Inul Daratista yang berhasil hamil dengan bayi tabung. Saya pun mendapat info dari karyawan yang membaca sebuah majalah, kalau ada program bayi tabung dengan dr Aucky Hinting di Surabaya dan harganya di bawah Rp 100 juta,” papar perempuan kelahiran Samarinda pada 24 April 1976 itu.

Dalam menjalani program bayi tabung, proses yang dilalui tetap tak mudah. Dia memang dinyatakan hamil, tapi janin yang dikandungnya tidak berkembang saat usia kehamilan 2,5 bulan. Tak menyerah, pasangan ini kembali menjalani program bayi tabung setelah fisik Liana siap secara medis untuk memulai program lagi.

“Pada program kedua, saya dinyatakan hamil lagi. Dan ternyata saya mengandung triplet (sukses tiga janin, Red). Namun, saat kehamilan 2,5 bulan janin saya gugur. Selama perjalanan ke rumah sakit, suami menyemangati dan menyuruh pasrah. Tapi saya trauma, karena kehamilan sebelumnya pada 2,5 bulan juga ada masalah dengan janin,” ungkap Liana.

Sesampainya di rumah sakit, Liana dan Witono malah kaget, hatinya yang patah kembali semangat. Mukjizat berkata lain, masih ada satu janin yang bertahan dan sehat. “Rasanya enggak percaya, ternyata Tuhan mendengar doa kami dan masih memberi kesempatan untuk bisa punya anak lagi. Anak kedua kami lahir pada 28 Agustus 2011, dan kami beri nama Keyllie Angeline Winadi,” kisahnya, tersenyum.

Belum memiliki anak laki-laki, Liana berpikir untuk menjalani program bayi tabung sekali lagi pada 2013. Sebagai keturunan Tionghoa, dia merasa belum lengkap jika tidak memiliki anak laki-laki. Dia pun berdiskusi dengan suami, saat itu kedua anaknya masih kecil. Usianya pun belum kepala empat, jika melakukan bayi tabung lagi, tingkat keberhasilannya pun masih cukup besar.

“Karena usia juga menjadi faktor yang mendukung keberhasilan bayi tabung. Suami sepakat, saya kembali menjalani program bayi tabung. Sebenarnya saya trauma dan cemas, takut kalau saya hamil, kandungan bermasalah lagi seperti sebelumnya. Capek, sangat menguras tenaga, pikiran, emosi, dan biaya yang dikeluarkan juga enggak sedikit,” ungkap perempuan penghobi zumba dan salsa itu.

Setelah menjalani program bayi tabung ketiga dengan dokter yang sama di Surabaya, Liana hamil lagi. Tak hanya satu, ada tiga janin yang berkembang di rahimnya. Namun, kembali hamil bukan berarti perempuan berambut panjang itu bisa tenang. Dia harus ekstrahati-hati menjaga kehamilannya, serta bertaruh nyawa untuk anak yang dikandung.

“Setelah program bayi tabung, saya kembali ke Samarinda. Dokter kandungan yang selalu memeriksa saya di sini (Samarinda) marah. Karena jarak kehamilan saya dari hamil sebelumnya dekat, apalagi hamil kembar tiga. Ukuran perut bisa lebih besar dari kehamilan satu anak. Seiring perut yang membesar, dokter bilang kalau bekas jahitan caesar sebelumnya akan menipis, sewaktu-waktu jahitan bisa robek,” ungkap perempuan 41 tahun itu.

Liana melanjutkan, jika jahitan bekas caesar robek, kemungkinan nyawanya tidak akan selamat. Mengeluarkan bayi sebelum waktunya juga tidak mungkin. Dilema. Liana pun memilih untuk bertahan dengan kehamilan. Usia kehamilan menginjak tujuh bulan, Liana mengalami pecah ketuban dan siap melahirkan.

“Tapi ada beberapa pertimbangan medis yang membuat caesar ditunda beberapa hari. Karena anak prematur, kemungkinan secara perkembangan biologis anak belum siap dilahirkan. Kalau terlalu lama ditunda juga berbahaya untuk keselamatan saya. Tepat 31 Januari 2014, si kembar pun lahir dengan selamat,” kenangnya, bahagia.

Kelahiran anak kembar tiganya disambut dengan sukacita, karena dua di antaranya adalah laki-laki. Mereka diberi nama, Jerry Winadi, Jeffry Winadi, dan Jennifer Winadi. Saat ini ketiganya tumbuh sehat menggemaskan dan sudah masuk playgroup. “Walaupun sempat frustrasi dan trauma, tapi saya sangat bersyukur. Suami, orangtua, dan mertua juga selalu memberi semangat dan dukungan. Rasanya sangat bahagia, setelah sekian lama menunggu hadirnya keturunan akhirnya sekarang diberkahi lima anak. Semua anak saya urus sendiri tanpa bantuan baby sitter, karena saya sangat menikmati menjadi ibu,” tutur Liana, semringah.

ANTIPEDAS

Menjalani kehamilan melalui program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF), menurut Liana, cukup berat. Selama hamil, dia harus ekstrahati-hati agar anak yang dikandung tidak gugur. “Saya enggak boleh makan yang pedas-pedas, enggak boleh beraktivitas berat. Antara hamil alami dengan bayi tabung berbeda, bayi tabung lebih besar risiko kegugurannya. Banyak teman saya yang bahkan sudah hamil lima bulan malah keguguran, saya pun mengalami hal itu,” ujar perempuan yang memiliki bisnis otomotif bersama suaminya di Jalan Gatot Subroto Samarinda itu.

Saat melahirkan tiga anak kembarnya, Jeff, Jerry, dan Jenny harus masuk inkubator, karena lahir prematur. Di antara ketiganya, Jenny yang paling lama dirawat. Sekira 10 hari. Karena berat saat lahir hanya 1,2 kilogram. “Walau sangat kecil, tapi dia (Jenny) sehat. Semua anak yang saya dapat dari inseminasi dan bayi tabung tumbuh kembangnya pun enggak jauh berbeda dengan anak lainnya (proses normal). Saat ini putri pertama kami sudah kelas IX dan yang kedua kelas 1 SD. Mereka sekolah di Santo Fransiskus Assisi Samarinda,” ucapnya.

Waktu memutuskan menjalani program inseminasi dan bayi tabung, tentu ada banyak pertimbangan yang dipikirkan Liana dan Witono. Saat itu, Liana mengatakan, berani mengeluarkan uang sampai Rp 80 juta untuk empat kali inseminasi, hingga mendapatkan anak pertama.

“Pas ingin hamil anak kedua, kami pun berani mencoba bayi tabung, karena tahu harganya di bawah Rp 100 juta. Kalau sampai Rp 250–300 juta, kami juga enggak berani coba. Setelah dijalani, saya pun tahu, biaya yang dikeluarkan untuk program IVF ternyata juga bergantung dengan fisik. Jika hasil lab menyatakan tidak perlu menggunakan ampul (dosis) suntikan yang banyak, pastinya lebih hemat,” jelas Liana.

MENGENAL IVF

Metode bayi tabung menjadi salah satu solusi terbaik bagi pasangan yang tak kunjung berhasil hamil secara alami. Namun, tak semua pasangan sulit berketurunan disarankan untuk program bayi tabung. Secara medis, proses bayi tabung disebut IVF. Kehamilan diawali dengan sel telur yang dibuahi sperma di luar tubuh.

Tidak semua pasangan mesti memilih bayi tabung. Hanya bagi pasangan yang bermasalah dan mengharuskan menjalani program bayi tabung. Indikasi absolutnya, saluran telur perempuan sudah buntu atau sperma suami mengalami gangguan yang berat. Pasangan yang mungkin sudah menikah di atas satu tahun dan belum berusia 40 tahun juga disarankan program bayi tabung.

“Akan lebih baik jika bayi tabung dilakukan sebelum 40 tahun. Karena salah satu faktor penentu keberhasilannya adalah usia perempuan. Semakin muda akan semakin besar peluang kehamilan,” ujar Konsultan Fertilitas Endokrinologi Reproduksi di Samarinda dr Irfan SpOG.

Sebelum memilih prosedur bayi tabung, beberapa hal harus diperhatikan. Tak hanya kondisi pasangan secara medis, tapi juga kesiapan finansial. Mengingat, biaya yang dibutuhkan untuk prosedur bayi tabung relatif mahal. Penting selalu berkonsultasi dengan dokter dan tim medis untuk memperoleh solusi terbaik.

Diketahui, percobaan bayi tabung pertama kali berhasil pada 1959. Percobaan dilakukan pada kelinci. Kemudian diadopsi pada manusia pada 1978. Tepatnya 27 Juli 1978 lahir Louise Brown, bayi tabung pertama di dunia. Sementara di Indonesia bayi tabung pertama lahir pada 2 Mei 1988. Diberi nama Nugroho Karyanto, bayi tersebut lahir di RS Harapan Kita, Jakarta.(far/k8)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

Quis autem vel eum iure reprehenderit qui in ea voluptate velit esse quam nihil molestiae consequatur, vel illum qui dolorem?

Temporibus autem quibusdam et aut officiis debitis aut rerum necessitatibus saepe eveniet.

Copyright © 2015 The Mag Theme. Theme by MVP Themes, powered by Wordpress.

Scroll Up